Advertisement

Responsive Advertisement

Dir Al Idzom

: persembahan untuk (F) yang setia menunggu tulisan-tulisanku

“Iyakah hatimu untukku?”

1#

Pada malam-malam yang kau sisakan untukku tak juga aku temukan jawaban pertanyaan itu. Sudah panjang perjalanan yang kita tempuh. Sudah lama juga jejakmu kuikuti, kumaknai, dan kuinsafi. Tangan ini kau gandeng dan kau seret masuk dalam hidupmu. Kau jadi teman, sahabat, rekan kerja, kekasih, dan apa saja buatku. Tapi semua kau rangkum dalam satu senyum berbingkai diam.

Tanyaku setahun yang lalu masih sama-sama kita ingat dan belum kau jawab. Dan justru setahun ini kau banyak bercerita padaku tentang kota tua ini. “Kairo masih punya banyak cerita untuk kita,” katamu di Café El Fishawi Maydan Husein, setahun yang lalu.

Mendengar kau bercerita membuatku tak menyadari ada banyak pedagang menawarkan barang di lorong yang membelah El Fishawi. Anak-anak kecil yang menjajakan tisu dan pelayan-pelayan yang sibuk melayani pengunjung café seperti terjebak dalam lingkaran waktu yang membeku. Ya, kau membuat waktu di Kairo berhenti dengan ceritamu tentang Naguib Mahfouz yang menghabiskan waktu di café tua ini. Mencari inspirasi dan menuangkan ide dalam banyak karyanya.

“Kau bisa bayangkan saat itu belum ada komputer canggih seperti di zaman kita sekarang. Tapi dia terus berkarya. Karya yang luar biasa.” Katamu berapi-api tapi kemudian murung kembali. Diam. Realita seperti sedang menyudutkanmu pada satu kenyataan. Tidak ada karya dari kita. Kita sama-sama dimanjakan zaman. Tapi bagaimana dengan pertanyaanku? Kau juga masih diam soal itu.

Dari hari-harimu yang sibuk dengan ini itu, dengan si anu dan si fulan, di sini dan di sana, kau masih menyempatkan sehari dua hari untukku, Apa benar itu untukku? Atau untuk dirimu sendiri? Agar kau bisa bercerita padaku soal gereja-gereja tua di kawasan Kairo Lama? Soal kerukunan umat beragama? Masalah sektarian? Semua sudah kau ceritakan. Dan kau terus mengulang-ulang cerita itu. Dan aneh, aku pun tak pernah bosan mendengar ceritamu.

Di depan makam Ratu Syajara al-Durr kau bercerita tentang malangnya nasib sang ratu yang pernah menjadi sultanah di kekhalifahan Ayyubiyah dan satu-satunya wanita yang pernah jadi khalifah di sejarah Islam. Kau bela dia. Kau anggap dia sebagai wanita yang tangguh namun terpojokkan oleh keadaan politik saat itu. “Itulah wanita, selalu kalah, selalu dipinggirkan, dan selalu dipersalahkan.” Katamu sambil terus menatap sebuah makam yang di depannya sudah dijadikan tempat sampah oleh penduduk sekitar.

Aku menyanggahnya, maaf sayangku, aku tidak setuju. Syajara al-Durr memang bersalah. Ketika al-Malik al-Salih meninggal tahun 1249 Masehi, anaknya, Turansyah, naik tahta sebagai Sultan. Golongan Mamalik merasa terancam karena Turansyah lebih dekat kepada tentara asal Kurdi daripada mereka. Pada tahun 1250 Masehi Mamalik di bawah pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah. Istri al-Malik al-Salih, Syajara al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamalik berusaha mengambil kendali pemerintahan, sesuai dengan kesepakatan golongan Mamalik itu. Kepemimpinan Syajara al-Durr berlangsung sekitar tiga bulan. Ia kemudian kawin dengan seorang tokoh Mamalik bernama Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya sambil berharap dapat terus berkuasa di belakang tabir. Akan tetapi segera setelah itu Aybak berencana membunuh Syajarah al-Durr dan mengambil sepenuhnya kendali pemerintahan. Namun siapa sangka dengan api cemburunya Syajara al-Durr justru lebih dulu membunuh Aybak. Namun akhirnya Syajara al-Durr juga dibunuh oleh budak perempuan Aybak dengan dilempari sandal kayu sampai mati dan dilempar dari salah satu menara Citadel.

Kau tetap bersikeras pada pendapatmu. Tapi kau tidak sanggup mematahkan argumentasiku. Kau hanya melanjutkan semua perdebatan pada diam yang entahberantah di mana tepiannya.

Marah? Tidak. Kau hanya murung dan merasa terasing. Kau merasa jadi ilalang di lembah Nubia.

Aku ingin memelukmu, meyakinkan padamu bahwa kau tak sendiri di dalam gelap ini. Aku ingin mengecup bibirmu agar tabir-tabir tabu tentang peradaban bisa terucap dari bibir bekumu. “Aku bersalah padamu, menyeretmu masuk dalam duniaku. Duniaku ini di masa lalu. Di dalam sejarah, di tahun-tahun emas Abbasiyah, tahun-tahun berdarah Mamalik, dan tahun-tahun penuh kecurigaan Turki Utsmani.” Katamu sembari mengaliri pundakku dengan airmata.

Lalu? Sudah berapa kali aku yakinkan padamu. Aku rela masuk ke dalam hidupmu. Menjadi kepastian buatmu. Ada, mewujud, menemanimu, seperti Nil untuk Mesir, seperti bukit Muqattam untuk Kairo.

Di pucuk menara yang berdiri di Bab al Mitwali kuungkap kembali tanyaku. Kau jawab, “Masjid di puncak Muqattam itu masih bisu, putih sendirian.” Kenapa Badr al-Gamali membangunnya sendiri di puncak sana? Masjid putih bernama Guyushi itu hanya bisa memantau sibuknya Kairo tanpa pernah ikut dalam riuh-ramainya. Atau memang sengaja sang jenderal membangun masjid itu untuk sendiri? Agar orang-orang kelak akan tahu bahwa sendiri tak berarti lemah. Sendiri tak berarti kalah. Sendiri itu kuat. Seperti yang dituliskan oleh Bernard Shaw tentang seorang martir Protenstan bernama Saint Joan. Saint Joan berkata dalam salah satu dialog “Jangan kira kau bisa menakuti saya dengan mengatakan bahwa saya berdiri sendiri. Negara Perancis sendirian dan Tuhan juga sendirian. Kesendirian Tuhan adalah kekuatan-Nya.”

2#

Untuk sebuah malam di musim panas. Pada saat lampion-lampion khas Mesir digantung di mana-mana. Pembicaraan kita terus bergulir seiring kepulan asap syisa dan kopi memenuhi ruang café di depan Bab al-Futuh tentang mahasiswa kita yang jadi zombi di Mesir. Hidup tak hidup, pun belum benar-benar mati. Berjalan melewati hari tanpa arah pasti. Dan komunitas itu tidak kecil. “Kenapa kau masih mempedulikan mereka? Toh kezombian mereka tidak membuatmu rugi tidak pula mereka mempedulikan dirimu.”

Ini bukan profit sayangku. Aku anggap ini panggilan alam. Seperti Shalahuddin yang datang ke Mesir. “Ah dia juga ekspansi di sini. Profit juga kan?” Katamu tak mau kalah. Perdebatan di antara kita memang tak pernah berakhir. Semua terus mengalir seperti Nil. Tapi lagi-lagi kau membekukan semuanya, waktu, langkah hidup, dan pertanyaanku. Aku jadi seperti bertanya tanpa membutuhkan jawaban. Padahal jawaban itu sangat penting. Meski tidak akan dicatat oleh sejarah.

Angin masih saja membelai nakal jilbabmu. Aku cemburu pada malam, angin, bulan, bintang, matahari, dan debu jalanan. Mereka bebas mencumbumu, sementara aku? Aku masih berdiri di batas tabu aturan dan dogma. Atau karena aku begitu pengecut? Yang tak berani membawamu ke dalam ruangku, tempat aku mencari dan berkontemplasi? Ah sepertinya tidak begitu. Ini hanya soal kesabaran. Layaknya Al Azhar mengasuh banyak penuntut ilmu berabad-abad. Lantas aku sendiri seperti pasukan Thoriq Bin Ziyad yang tidak mendapat jalan kembali karena semua kapal sudah dibakar habis. Aku tak akan pernah bisa berbalik dan keluar dari hatimu.

Sampai di ujung jalan Gamalea belum juga ada jawaban tentang tanyaku. “Iyakah hatimu untukku?” Kuulang tanya yang sudah setahun ini kunanti jawabannya. Di depan pusara yang bisu berbau harum yang sedang dikerumuni banyak orang kau menunduk. Kau acuh tapi bibirmu bergerak. Seperti alunan simponi doa-doa itu naik kelangit, mendoakan sang cucu Rasul yang terbaring di antara Karbala dan Kairo.

Kuajak kau makan di KFC atau McDonnald. Kau tidak mau, katamu “Makanannya sangat kapitalis, minumannya kapitalis, tempat duduknya kapitalis, dan pelayan-pelayannya adalah budak-budak kaum borjuis.” Lantas makan di warung mahasiswa kita, aku bilang, “Apa ini tidak kapitalis? Mereka yang punya banyak uang menanam saham di warung-warung ini lalu mempekerjakan mahasiswa-mahasiswa miskin. Lalu mereka akan diikat dengan aturan kerja seperti layaknya buruh. Mereka melupakan posisi kesetaraan mereka sebagai sesama mahasiswa, sesama penuntut ilmu. Apa itu tidak cukup untuk menyebut kapitalis pada mereka?”

“Lantas kita harus makan di mana?” Tanyamu sedih. Kenapa kita tidak menghabiskan waktu berbagi dengan mereka para yatim dan janda-janda tua di Qarafa, sayang. Mereka diusir dari rumah-rumah mereka di Downtown sejak zaman Gamal Abdul Nasser di tahun 1950-an. Mereka terpaksa numpang hidup di tempat orang tak hidup. Anak-anak mereka dibodohkan agar tidak tahu sejarah keberadaan orang tua mereka di situ.

“Mereka yang punya uang, punya gadget mahal, berkecukupan dalam hidup sehari-hari pun masih mencari maidaturrahman untuk buka puasa.” Katamu lagi sambil menyeretku menyusuri Darb al-Ahmar. “Salahkah itu?” Tanyaku. Kau diam lalu menggeleng pelan. Ah matahati kita sudah banyak tertutupi nafsu duniawi, sayang. Kita sudah lupa wujud kita sendiri, bentuk kita sendiri. Sadar tidak sadar kita semua sudah berusaha menjadi penguasa atau diktator ‘kecil’.
Di Maydan Shalahuddin kami duduk berdua meratapi malam yang sendu. Sambil dikelilingi bangunan-bangunan tua masa Ayyubiyah, Mamluk, Turki Utsmani, dan Muhammad Ali kami membisiki rerumputan dan bunga-bunga. “Jangan berhenti mengajari Kairo bagaimana harusnya hidup.”

“Kenapa kau tanyakan pertanyaan itu? Dan kenapa kau memilih untuk menunggu jawaban dariku selama setahun ini? Bukankah itu sangat menyakitkan?” Tanyamu lewat balik tabir alam yang mulai tersingkap. Polos, telanjangi jiwa lusuhku.
“Karena aku sudah memilihmu seperti Jauhar as-Siqli telah memilih Dir al-Idzom sebagai tempat mendirikan Fatimiyah dan Al Azhar. Seperti Ibnu Tulun memilih Qata’I untuk membangun tonggak Dinastinya.” Kataku sambil memeluk melindungi putri kita dari angin malam Kairo yang nakal. Kau tersenyum manis sekali, lebih manis dari madu dan halawa-halawa Ramadhan.

Yang mencinta
Zulfahani Hasyim

Cerpen ini pernah dipublikasikan di Buletin Suara PPMI Mesir periode 2010-2011.

Posting Komentar

1 Komentar