
Sebuah perjalanan mengantarkan pertemuan saya dengan seorang sopir taksi. Bukan sembarang sopir taksi rupanya. Ketika saya tanya “Enta Azhary?” jawabnya “Laa, ana Qohiry” yang artinya “Apakah anda lulusan Al Azhar?” “Bukan saya lulusan Cairo University”. Di jok depan, malam itu perjalanan dari Awal Abbas hingga ke Hay El Ashir pun saya habiskan dengan bercakap-cakap dengan sopir taksi yang mengaku lulusan Cairo University itu, sementara tiga kawan saya memilih diam di jok belakang. Terlepas dari benartidaknya pengakuannya yang jelas ada yang perlu disorot lebih tajam, yaitu sarjana yang jadi sopir taksi.
Lama kami berbincang soal Cairo University, tentang Fakultas Studi Islam Darul ‘Ulum yang ada di dalamnya, tentang jurusan Filsafat yang ada di bawah Fakultas Adab. Sopir taksi itu sendiri mengaku bahwa dia adalah lulusan Fakultas Hukum dan HAM atau semacam Syariah wal Qonun di Al Azhar. Kami sempat bicara soal komparasi dua universitas besar di Mesir itu, Al Azhar dan Cairo University. Baginya tidak ada yang lebih unggul satu sama lain, keduanya sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Yang jelas spirit keilmuan sang sopir taksi bercambang panjang ini cukup kuat.
Saya sendiri antusias mendengarkan penjelasannya tentang Fakultas Darul ‘Ulum di Cairo University karena memang saya sedang tertarik untuk melanjutkan program magister di sana. Saya sedikit menerka umurnya berkisar antara lima puluhan. Seharusnya dia sedang menjabat sebagai pejabat kehakiman atau bisa jadi seorang pengacara, dan bukan menjadi seorang sopir taksi.
Ada getir yang tersirat dari raut wajahnya, saat saya tanya “Apakah anda juga bekerja di kehakiman?” Dia menjawab dengan nada sendu. “Ya seharusnya.” Sungguh perasaan getir juga menyelinap dalam hati saya. Saya juga merasakan rasa takut yang mengancam karena saya juga bakal jadi sarjana seperti dia. Apakah memang begitu nasib sarjana zaman sekarang? Walau menjadi sopir taksi adalah pekerjaan yang halal dan setiap pekerjaan yang halal adalah pekerjaan yang mulia, namun apakah hanya sebatas itukah nilai dari seorang sarjana? Bersaing, terlunta, dan terbuang tatkala kalah dalam seleksi alam.
Mungkin memang paham kapitalis yang banyak ditolak itu sebenarnya masih banyak dipraktikkan hampir di seluruh penjuru dunia. Siapa yang punya modal dialah yang bisa menguasai keadaan. Dan begitu pun sarjana, selain punya ilmu sarjana pun ‘dituntut’ punya modal dalam artian paling materialis. Hampir-hampir tidak pekerjaan yang murni berdasarkan skill. Menjadi polisi, tentara, dan hakim pun sekarang harus keluar modal. Dan bagi mereka yang tidak punya modal silakan mundur teratur.
Zaman memang sudah mengalami pergeseran cukup jauh. Dari zaman ilmiah menjadi zaman kapital. Dulu orang pintarlah yang dihormati, sekarang orang kayalah yang dihormati. Mungkin benar kata guru ekonomi saya dulu di SMA, “Orang bodoh kalah sama orang pintar, orang pintar kalah sama orang kaya, dan orang kaya kalah sama orang beruntung.”
Mungkin manusia sudah semakin pragmatis. Dalam dunia ilmiah memang tidak ada standar baku kepintaran. Namun dalam hal materi tentu ada standar baku kekayaan yaitu nominal uang atau emas. Sekarang kita tinggal pilih, jika kita mau idealis maka bersekolahlah semata-mata karena mencari ilmu. Namun jika ingin lebih realistis carilah ilmu untuk menunjang pekerjaan anda.
Namun lagi-lagi setiap kita harus berbenturan pada tingkat lapangan pekerjaan yang kian hari kian sempit. Jumlah penduduk yang meningkat tajam tidak dibarengi dengan rasio peningkatan lapangan pekerjaan. Akhirnya pengangguran adalah salah satu masalah terbesar manusia abad ini.
Daya kreatifitas dan inovasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri juga menjadi tantangan bagi setiap sarjana yang lahir dari rahim-rahim universitas di dunia. Sudah saat mahasiswa memikirkan inovasi baru menciptakan lapangan pekerjaan sebelum dia lulus. Jadi saat dia lulus dia tidak bergantung pada minimnya lapangan pekerjaan. Pemerintah negara-negara di dunia ini sudah tidak bisa lagi diandalkan untuk mengatasi permasalahan yang sangat kompleks ini. Hampir tidak ada satu pun negara yang tidak ada penganggurannya. Namun begitu bukan suatu hal yang mustahil bagi kita para calon sarjana untuk bisa terlepas dari jebakan kapitalisme yang membunuh itu.
Kairo, 11 September 2010
0 Komentar