Advertisement

Responsive Advertisement

Kidung Malam untuk Arimbi

Bima masih merasa bersalah. Dia merasa seharusnya tidak sekasar itu berkata pada Arimbi. Namun memang rasa cemburu telah menyusup bahkan merasuk. Puntadewa, saudara kandungnya telah mencoba menjadi orang ketiga di antara hubungannya dengan Arimbi. Namun Bima pun masih belum seutuhnya yakin akan hubungannya dengan Arimbi. Bima belum benar-benar jadi kekasih Arimbi. Arimbi pun belum seutuhnya menerima Bima. Cinta segitiga ini semakin rumit saja karena Arimbi adalah seorang yang telah banyak membantu keluarga Pandawa.

Dahulu Arimbi hanyalah raksesi yang dibayar oleh kerajaan Pringgondani ketika berperang melawan Kurawa. Dialah informan yang memata-matai Kejarajaan Kurawa. Karena jasanya kemudian Arimbi diangkat menjadi penasihat Bima di kerajaan. Bima pun jatuh hati padanya. Namun karena Bima adalah seorang kstaria maka dia merasa gengsi untuk menyatakan perasaannya pada Arimbi. Sementara Arimbi yang hanya seorang bawahan tak mungkin berani mengungkapkan bahwa sesungguhnya dia juga jatuh cinta pada Bima. Hari-hari berlalu dalam diam dua anak manusia yang saling mencinta. Perih pedihnya rindu terpaksa ditanggung keduanya.

Puntadewa kini banyak bekerja bersama Arimbi. Puntadewa adalah seorang jenderal yang memimpin dua puluh ribu pasukan. Dia butuh banyak nasihat dari orang yang punya banyak informasi tentang musuh, siapa lagi kalau bukan Arimbi. Hari demi hari berjalan tanpa terasa. Puntadewa pun mulai menaruh hati pada Arimbi. Dia gadis yang cerdas dan sangat bijaksana. Dia punya pengalaman perang saat dia masih menjadi seorang raksesi. Arimbi juga punya wajah yang menawan. Kulitnya kuning langsat bagai tak pernah tersentuh debu peperangan. Tubuhnya tinggi semampai dengan tungkai yang gesit. Sempurnalah Arimbi di mata Puntadewa.

Cinta memang bisa menerpa siapa saja. Tak kenal usia, umur, ataukah tahta. Cinta bisa membuat seorang raja menjadi budak dan juga sebaliknya. Begitu pun Bima, dia adalah raja Pringgondani. Dia berkuasa atas negeri adikuasa. Namun kali ini dia harus takluk oleh dahsyatnya asmara. Kagumnya terhadap Arimbi sudah berbuah cinta. Namun posisinya yang merupakan raja Pringgondani membuatnya gengsi jika harus takluk di pelukan seorang mantan raksesi.

Menyimpan cinta pun bukan hal yang mudah. Sepayah menyampaikannya, menyimpan cinta adalah siksaan bagi para pecinta. Dia indah namun juga menyayat. Dia sejuk namun juga membakar. Dia damai namun bisa membuat peperangan. Kini Bima sudah tahu bahwa Puntadewa pun menaruh hati pada Arimbi. Sungguh tidak akan tega dia memupus cinta saudaranya. Juga tidak akan kuat dia menahan gejolak cemburunya. Setengah gila rasanya Bima.

Gejolak cinta segitiga ini mempengaruhi seluruh tatanan sosial-politik di Pringgondani. Bima lebih sering menyendiri di istana tanpa menghadiri rapat dengan para menterinya. Berbagai urusan dalam dan luar negeri pun banyak terbengkalai. Semua itu karena Bima tidak sanggup melihat Arimbi bekerja dengan Puntadewa. Demikian Puntadewa, dia menjadi jarang menghadiri rapat militer karena dia terbakar cemburu kala Arimbi juga dipanggil kerajaan untuk memutuskan sebuah taktik militer bersama Bima. Semua serba tidak nyaman dan canggung.

Keadaan ini disadari Dewi Kunthi, Ibu dari para pandawa. Dewi Kunthi mencoba bicara empat mata dengan Puntadewa, anak sulungnya. Dia sadar bahwa anak sulungnya itu juga menaruh hati pada Arimbi. Dan dia tidak ingin terjadi pertikaian di Pringgondani. Semua harus dibicarakan baik-baik.

“Puntadewa anakku, aku akui kau sudah cukup dewasa dan sudah layak mempunyai pendamping. Apakah kiranya sudah ada seseorang yang sudah menaklukkan hatimu?”

Puntadewa diam. Hatinya bergemuruh. Bayangan Arimbi menari-nari di antara batas sadar dan khayalnya. Senyumnya, binar matanya, manis bibirnya, semua itu seperti memaksanya untuk bilang pada ibunya bahwa dia jatuh cinta pada Arimbi.

“Ibu sudah bisa membaca pikiranmu. Siapa yang tidak jatuh cinta pada Arimbi. Gadis cantik nan cerdas itu.”

Puntadewa terhenyak mendengar tutur ibunya. Dia mengambil nafas dalam-dalam.

“Saya tidak mungkin melukai perasaan Adinda Bim., Ibunda, saya ikhlas, semua sudah diatur Sang Hyang Widiwasa” jawab Puntadewa lirih.

“Kalian sudah sama-sama dewasa. Tentu sudah bisa memutuskan mana yang terbaik. Mintalah petunjuk pada Prabu Pandu, ayahanda kalian.”

“Baiklah ibunda, kiranya ayahanda akan member nasihat yang terbaik buat kami.”

Kini Dewi Kunthi menemui Bima, anak keduanya yang juga sama-sama menaruh hati pada Arimbi.

"Bima, anakku, apa pendapatmu tentang Arimbi?"

"Dia gadis yang cerdas," jawab Bima lugas.

"Tidak adakah yang lain?"

"Dia juga cantik." Jawab Bima singkat

Kali ini Dewi Kunthi tersenyum mendengar jawaban putra keduanya itu. Bima memang sosok ksatria yang jujur. Dia akan bicara apa adanya tentang apa yang ada di hati dan pikiran. Kunthi pun memahami Bima punya perasaan yang sama dengan Puntadewa. Kini masalahnya Arimbi haru memilih di antara keduanya.

Hari terus berganti dan Arimbi semakin membuat dua ksatria Pringgondani terpesona dan tergila-gila. Sadar tak sadar persaingan untuk mendapatkan Arimbi pun muncul walau tidak kasat mata. Bima dan Puntadewa memang dididik ala ksatria. Keduanya masih tetap menghormati antara adik dan kakak. Meski Bima yang ada di kursi nomor satu kerajaan Bima tetap tidak semena-mena terhadap Puntadewa.

Kabar persaingan dua bersaudara itu terdengar juga oleh Prabu Pandu ayahanda Pandawa. Prabu Pandu yang merupakan seorang bijak bestari tidak membiarkan persaingan itu menjadi pemecah belah Pringgondani. Dia pun memutuskan membuat sayembara khusus untuk dua putranya tersebut.

"Kalian berdua adalah seorang ksatria tentu akan bisa menerima hasil apapun yang ada setelah sayembara ini." Kata Prabu Pandu kepada Bima dan Puntadewa.

"Ayahanda, saya ikhlas jika Kakanda Puntadewa yang mendapatkan Arimbi. Dan rasanya tak perlu ada sayembara begini. Arimbi bukanlah hadiah atau piala. Ananda menghormatinya seperti ananda menghormati adik sendiri. Dia wanita mulia. Dan saya sungguh benar-benar mencintainya. Maka saya ikhlas jika Arimbi menjadi pendamping Kakanda Puntadewa, karena ananda yakin Arimbi jatuh ke tangan yang tepat." Jelas Bima.

"Tidak adinda. Kau yang menduduki puncak pemerintahan, lebih pantas mendapatkan Arimbi. Dia wanita yang cerdas, dia akan banyak membantumu dalam memerintah Pringgondani."

"Sungguh Kakanda, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Kakanda, nikahilah Arimbi. Saya bahagia jika Kakanda bahagia." Kata Bima dengan mimik penuh kedewasaan tanda bahwa dia memang seorang ksatria.

Sayembara pun batal dilaksanakan. Kedua kakak-beradik itu malah saling mengikhlaskan. Namun cinta tetaplah cinta dengan segala wataknya. Rasa dalam hati tidak pernah mau berbohong. Keduanya tetap saling cemburu kala Arimbi bersama salah satu dari keduanya. Bima cemburu saat Arimbi ada di kamp latihan militer bersama Puntadewa. Sementara Puntadewa cemburu saat Arimbi ada di istana Pringgondani.

Keadaan kerajaan Pringgondani semakin kritis karena dua orang paling berpengaruh di kerajaan justru saling cemburu karena jatuh cinta kepada Arimbi. Ekonomi Negara semakin kacau. Banyak investor yang hengkang dan menarik modalnya dari Pringgondani karena Bima sudah tidak lagi serius menangani masalah ekonomi.

Dari segi kedaulatan, Pringgondani mulai kehilangan beberapa Negara bagiannya. Satu per satu Negara bagian memisahkan diri dari Pringgondani. Konflik politik pun mulai mewarnai kerajaan. Karena Bima dianggap sudah lemah dalam memerintah maka banyak menteri yang ingin kudeta. Namun ada satu hal yang paling menakutkan. Kala ekonomi sudah terpuruk, kepercayaan masyarakat sudah luntur ancaman serangan balasan dari Kurawa muncul. Padahal militer Pringgondani semakin lemah karena Puntadewa sebagai pucuk pimpinan militer juga tidak bekerja secara optimal. Dia semakin jarang melatih langsung para pasukannya. Puntadewa lebih memilih berdiam di villa tempat dia biasa beristirahat.

Semua itu cuma karena satu hal, asmara cinta segitiga. Cinta memang indah tapi sekaligus sangat mengerikan jika dating tidak pada tempat dan waktunya. Cinta adalah berkah namun juga bisa jadi bencana. Kini Pringgondani benar-benar dalam ancaman serius. Bima selaku pimpinan tertinggi harus bisa memutuskan keputusan yang cepat, tepat, dan efektif. Namun lagi-lagi akal sehat Bima telah dikuasai emosi.

Bima memanggil Arimbi ke istana. Dari atas singgasananya dia memarahi dan memaki-maki Arimbi sebagai biang kerok semua kehancuran yang ada di Pringgondani. Bima mencoba menutup semua mata batinnya yang terus berteriak "Arimbi aku sangat mencintaimu, aku sungguh sayang padamu."

Arimbi hanya bisa tertunduk sambil menangis. Sebagai mantan Raksesi dia sangat jarang menangis, namun kali ini hatinya pedih peri tak tertala karena caci-maki itu keluar dari mulut orang yang sebenarnya sangat dia cintai. Pun begitu dia tak diberi kesempatan sama sekali untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Arimbi tersudutkan oleh kenyataan bahwa dialah sumber masalah yang ada di Pringgondani.

"Baiklah, saya bertanggungjawab atas semua masalah yang timbul di Pringgondani. Sesuai dengan kemampuan saya, maka izinkan saya memimpin langsung pasukan untuk melawan Kurawa. Ini karena cinta saya kepada Pringgondani lebih dari cinta saya kepada siapapun." Ucap Arimbi tegas. Dengan mata berkaca-kaca Bima melepas kepergian Arimbi. Dia menyesal telah memarahi dan memaki-maki Arimbi. Namun semua karena cinta segitiga yang sangat rumit.

Tanpa sempat mengungkap perasaannya kepada Bima, Arimbi berangkat menuju medan perang dan memimpin dua puluh ribu pasukan untuk menangkis serangan dari Kurawa. Dengan jumlah kekuatan militer yang masih bisa dibilang besar serangan Kurawa pun dapat dihalo dan dipukul mundur. Namun sayang seribu sayang, kepulangan pasukan Pringgondani harus tanpa sang panglima, Arimbi. Arimbi tewas dalam peperangan. Dia mati meninggalkan luka mendalam bagi seluruh negeri Pringgondani. Dia juga meninggalkan cinta yang belum terungkap. Namun mungkin itu baiknya, semua terpendam demi kesatuan dan keutuhan Pringgondani.

Puntadewa sangat kehilangan Arimbi, dia depresi dan bahkan bisa dikatakan gila. Dia tidak lagi sanggup mengampu jabatan tertinggi dalam militer. Puntadewa pun diasingkan dari Pringgondani.

Tidak kalah kehilangan juga sang Bima. Dia sangat terpukul dengan datangnya berita kematian Arimbi. Beruntung dia tidak sampai gila. Namun akhirnya Bima memilih untuk menyepi di puncak Himalaya. Di sana Bima tak henti-hentinya menyanyikan kidung untuk mendiang Arimbi. Cintanya pupus dan harus dia pendam sendiri. Bima pun tak pernah tahu tentang perasaan Arimbi yang sebenarnya.



Tetaplah bahagia kau di sana

Dengan dua sayapmu terbanglah melaju di duniamu….



Kairo, 3 Oktober 2010

_____________________________

Kisah ini adalah khayalan penulis sendiri. Apabila ada ketidakakuran masalah tokoh, karakter, dan setting tempat dengan cerita wayang aslinya itu karena penulis hanya mengambil tokoh-tokoh dan setting tempat yang ada di dunia pewayangan sebagai tokoh dan latar di kisah ini tanpa mengambil alur ceritanya.

Posting Komentar

0 Komentar