
Pada malam yang menyapa lembut namun gigil. Aku masih diliputi ketakutan yang sama setelah lewat 4 tahun yang hitam. Menatap kosong sebuah ukiran hati yang sendu. Sejumput tembakau yang kering terbakar mengalir dalam seteguk kopi panas menghitam. Putih sudah masa lalu, saat kau bilang “Aku cemburu dengan masa lalumu.”
Aku memang sudah dalam hidupmu. Kau miliki sepenuhnya. Cerita masa lalu yang pernah aku lukiskan di benakmu sebenarnya tak dituju untuk membuatmu cemburu. Ini masa yang nyata, sayang. Ini rindu yang pasti. Aku yang terkapar sudah tiada. Tinggal aku yang kau sembunyikan di dalam dadamu. Dada yang tak begitu besar namun menyimpan samudera. Dada yang tak begitu tinggi namun belum juga bisa kudaki. Semua masih jadi butiran-butiran kata dalam puisi tanpa arti.
Sengaja aku bawa dirimu ke sini sayang, ke depan samudera Hindia yang sinis, yang bisu, yang menyimpan kemesraan masa lalu. Tapi bukan untuk membawamu kepada masa lalu. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku adalah kepastian, meski lama, meski jauh. Kadang aku pikir kau seharusnya memaksaku untuk mati di dalam aortamu agar aku bisa menyetubuh dalam tubuhmu. Jadi bahagia dan sedihmu. Tapi… Sunyi sudah lebih dulu membungkam kemesraan kita. Kau masih saja cemburu dengan mereka, Siti, Rina, Dewi, Nina, Dyah. Semua sudah ada di tempat yang tak terjamah lagi. Percayalah.
Kini kuharap kau bisa menikmati Hindia. Dengan ombaknya yang nakal hingga kau harus menahan kerundungmu sementara di saat yang lain tanganmu harus menjaga rokmu agar tak liar menampakkan aurat. Tapi bukankah auratmu itu untukku? Untuk kelakianku? Tapi hatiku tak butuh auratmu. Ini adalah sekerat daging yang hanya butuh kata-kata yang sepi, seperti “aku butuh kamu” atau “aku sayang kamu”. Ini segumpal darah yang tak tahu apa-apa soal aurat.
Kadang aku begitu pesimis, juga kadang suka mengeluh, ketakutan sendiri, seperti anak kecil tak berorang tua. Aku sebenarnya hanya ingin memastikan jika aku mati aku tidak sendiri. Aku ada di dalam pelukanmu, ada dalam rahimmu, ada dalam ciumanmu.
“Di pasir inikah? Di ombak inikah? Kau bercinta dengan masa lalumu?” Perempuanku memandang jiwaku yang kini layu.
“Di sini juga aku menjaring biru bersamamu. Menangkap putih dengan pelukanmu.” Kataku. Ah malang benar kelakuanku itu. Tapi sungguh aku ingin jadi yang purna di perjalananmu. Tidakkah kau masih ingat pada perjalanan kita menembus banyak lorong di Kairo? Sharia Mu’iz? Sharia Saliba? Sharia Khalifa? Nil yang teduh. Musim-musim yang tabu di antara lauang azan? Semua sudah aku tinggalkan sebelum aku mengajakmu ke puncak Zuwayla.
“Zuwayla tidak lebih tinggi dari puncak malam pengantin kita kan?”
“Betul. Kenapa mesti cemburu? Aku lukisan kosong yang seharusnya kau warnai.”
“Aku bukan anak kecil yang hanya bisa mewarnai.”
“Ya, seharusnya kau menimang diriku.”
Kembali diam, memunguti cemburu yang tumpah sebagian. Aku tahu kau sekarang memilikiku sekaligus melepaskan aku. Hindia pun kembali pada tabiatnya, berombak dan nakal. Kenapa kita tidak mencoba jadi cinta di atas pasir ini, sayang? Aku yang laki kau perempuan, dua tubuh yang berpasang, dua hati yang berpelukan. Kenapa kita tidak saling menciumi senyuman masing-masing dari kita? Jadi masa depan yang lanskap. Penuh cerita baru yang belum terungkap?
Kau pun menelanjang, melepaskan semua harapan yang membalut tubuhmu. Jadi mimpi yang perlu dirayakan. Berdusta pada realita. Berpaling dari logika yang berbuah cemburu. Menjadi makmum pada malam-malam yang keparat. Berkhutbah pada orgasme dan ejakulasi kemanusiaan. Jadi seutuh-utuhnya kebebasan. Bukan dogma yang kaku dan mematikan? Kenapa? Karena kita sudah ada di sini. Di depan Hindia yang congkak. Biar Tuhan juga mencintaimu. Memaksamu menanggalkan semua aurat. Kau yang polos juga diriku yang lukisan kosong.
Tanganmu meraba pasir di dadaku. Mengulum angin di kelakianku. Jadi perempuan yang paling perempuan. Surga! Surga! Lupaka Archimedes yang konyol itu. Kenapa harus tunduk pada teori gravitasi? Kita jadi cinta di gerbang-gerbang rahim yang basah. Jadi bayi yang menangis pertama-tama di dunia. Jadi ibu yang membayar kelahiran dengan luka. Mencipta kehidupan yang baru.
Biarlah memuas satu-satu. Petak ini jadi bisu dan tak ada yang tahu. Di sini. Di depan Hinda. Hujan turun perlahan dari ujung kelamin kehidupan. Lalu bukan lagi aku yang laki kau perempuan. Kini kau telah menghancurkan masa lalu dan merayakan masa depan. Tariklah. Tariklah pada sisa-sisa benang di tubuhmu untuk jadi herbal yang menyehatkan, yang menjinakkan racun-racun kefanaan.
Biarlah memuas satu-satu… Perempuanku…
Kairo, 14 November 2011.
Di rindu samping rumah yang merekah.
2 Komentar
Thanks for a marvelous posting! I certainly enjoyed reading
BalasHapusit, you may be a great author.I will be sure to bookmark your blog and will come
back down the road. I want to encourage you to ultimately continue your great posts, have
a nice afternoon!
Feel free to visit my blog post :: what is a graduate certificate
Hey There. I found your blog using msn. This is a very neatly written article.
BalasHapusI'll make sure to bookmark it and return to read extra of your helpful info. Thanks for the post. I'll definitely return.
my weblog: metabolic rate calculator