Advertisement

Responsive Advertisement

Botol Kosong


Sepi. Di sudut dunia yang tak jelas batasnya. Sebuah botol kosong terasing. Lalu lalang kehidupan mengacuhkannya. Dia pun diam di titik paling suram. Bisu jadi pembatas antara ruang nyata dan imajinasi. Sampah, bau, sumpek dan tetek bengek kotoran adalah ruang yang dipersilahkan Tuhan untuknya. Lantas bertuhankah botol kosong itu? Entahlah, dia hanya tau surga dan neraka bukan tercipta untuknya. Dia hanya pengabdi pada segala yang fana namun penyembah pada yang kekal.

Botol kosong masih di tempatnya. "Lelucon yang tidak lucu." katanya pada siapa saja yang lewat dan tak mungkin mendengarnya. Jauh dari rindu apa lagi cinta. Dia dianggap mati dalam hidupnya yang tak bertepi. Ruang realitas yang diperbebatkan hanya kebusukan yang dia acuhkan. Dia jadi segala-gala umpatan. Dilempar dan diperlakukan tidak senonoh. Namun dia akan terus bertahan entah sampai kapan karena detik terakhir dia berisi dia sudah yakin, sisa hidupnya tak akan ada manfaat lagi untuk semesta. Mungkin akan reinkarnasi tapi percuma, dia sudah tak lagi merasa memiliki dirinya sendiri.

Jalanan masih ramai dan masih seperti biasa. Botol kosong yang entah sisa apa masih tergelat di bagian fana paling tolol. Dia tak lagi bisa memberi dan payah juga untuk menerima. Wujudnya adalah ketiadaan abadi. Bising yang hinggap di atas jalanan hitam dia rekam sebagai saksi manusia. Jalan sang waktu kadang mampir sejenak melepas penat di lubangnya yang tak lagi terbungkus. Botol kosong harus kembali berjalan untuk sebuah ketidakpastian.

Sudah pasti akan terlupakan. Dia sudah yakin itu. Panas dan dingin tak juga Ia rasakan. Dalam renungan paling dalam dia bersumpah untuk tak jadi apa-apa lagi. Pengakuan adalah hal bodoh yang ada di dunia yang terus menerus dia coba ingkari. Botol kosong pun jadi apa saja yang bukan lagi apa-apa.

Saat tak lagi berguna.
Kairo, 4 Mei 2011

Posting Komentar

0 Komentar