
Dulu saya pernah menulis tulisan dengan tema sama dengan tulisan ini. Bagi kawan-kawan yang sudah pernah baca tulisan tersebut, mungkin tulisan ini bisa mengingatkan kembali. Saya mempunyai sebuah hipotesa tentang konsep jodoh dalam kehidupan, tentunya karena saya mempunyai kecenderungan bidang ilmu eksakta yang lebih dari bidang ilmu lain maka saya menguraikan konsep itu sesuai dengan bidang ilmu yang saya sukai, yaitu kimia. Mungkin ide ini terlalu memaksa, tapi namanya hipotesa bisa saja benar bisa saja salah. Dan tentu ide ini belum menjadi sebuah aksioma, karena penelitian saya belumlah berakhir. Semoga kelak cita-cita saya mendamaikan ilmu saintifik, sosial, dan agama bisa berhasil.
Dalam ilmu kimia kita mengenal beberapa jenis ikatan antar atom dan salah satunya adalah ikatan kovalen. Apa itu ikatan kovalen? Definisi paling gampang dari ikatan kovalen adalah :
“Ikatan yang terjadi akibat dari penggunaan elektron valensi secara bersama-sama oleh dua atom atau lebih agar setiap atom itu mempunyai susunan elektron valensi oktet seperti atom-atom gas mulia.”
Dari definisi di atas masih sangat membingungkan bagi yang belum paham dengan ilmu kimia. Tapi tidak masalah, saya akan menerangkan lebih simple lagi soal apa itu elektron, apa itu valensi, apa itu susunan elektron valensi, dan apa itu gas mulia.
Setiap atom di alam semesta ini terdiri dari proton, neutron, dan electron. Nah setiap atom dari unsur-unsur di alam ini mempunya jumlah elektro yang berbeda-beda. Ada yang 2, ada yang 4, ada yang 6, dan seterusnya. Dan setiap electron itu akan berada di kulit-kulit atom. Nah electron yang berada di kulit atom paling luar inilah yang disebut electron valensi. Atom akan mengalami kestabilan jika electron valensinya berjumlah 2 atau 8. Nah electron valensi dengan jumlah 2 atau 8 di alam semesta ini hanya dimiliki oleh atom unsur-unsur gas mulia. Apa saja unsur gas mulia? Gas mulia yang sudah diketahui oleh ilmuwan di dunia ini berjumlah 7 unsur yaitu Helium (He), Neon (Ne), Argon (Ar), Kripton (Kr), Xenon (Xe), Randon (Rn), dan Uniluno Oktium (Uuo) (dulu sewaktu saya masih SMA jumlah yang diketahui baru 6, eh saya update ke eyang Google, ternyata sekarang sudah 7 buah, berarti sudah ada penemuan baru yaitu Uniluno Oktium dengan nomor atom 118). Unsur gas mulia ini sudah stabil karena electron valensinya sudah berjumlah 2 atau 8.
Bagaimana dengan unsur selain gas mulia ini? Tentu tidak ada yang stabil. Maka dari itu unsur-unsur itu perlu mencari pasanganya agar dia stabil. Tentunya dengan cara menggenapi kekurangan jumlah electron yang paling luar (electron valensi). Nanti yang kita bahas hanya yang atom yang mempunyai satu ikatan saja. Soalnya nanti kalau membahas yang berikatan lebih dari satu nanti nyangkutnya ke masalah poligami, bisa kerepotan saya kalau ada yang tidak setuju dengan poligami hahahahahaha :D.
Seperti yang tadi saya jelaskan, bahwa atom-atom yang belum stabil akan mencari pasangannya agar dirinya stabil seperti gas mulia, selain itu hal ini bertujuan menjaga keadaan energi di inti atom. Sebagai contoh : atom Klor (Cl) mempunya electron valensi 7 (berarti elektron yang ada di kulit paling luar ada tujuh. Belum stabil bukan? Karena jumlahnya belum genap delapan, makanya Klor mencari pasangan yang jumlah elektronnya pas buat menggenapi electron valensinya. Selanjutnya, Klor bertemu hydrogen (H) yang mempunya electron valensi 1. Klor pun tertarik dengan hydrogen. Dan tanpa bertepuk sebelah tangan hydrogen pun tertarik dengan klor karena dia butuh satu atom untuk menggenapi valensinya agar berjumlah 2 seperti gas mulia. Karena memang sudah jodoh, klor dan hydrogen pun saling berikatan. Ikatan ini disebut ikatan kovalen, karena kedua atom saling menggenapi kekurang elektron valensi satu sama lain. Klor menggunakan satu electron hydrogen, dan hydrogen menggunakan satu atom Klor. Valensi Klor jadi genap 8 dan hydrogen jadi genap dua. Intinya masing-masing dari kedua atom itu memberikan satu elektronnya (dengan ikhlas tentunya) untuk digunakan oleh atom pasangannya.
Akhirnya dari ikatan dua unsur ini kita mengenal zat bernama HCl atau asam klorida. Dalam kehidupan sehari-hari asam klorida ada diperut kita tepatnya di lambung. Asam ini bersifat menghancurkan, makanya setiap makanan yang masuk ke lambung kita bakalan hancur. Kalau tidak percaya buka saja perut anda, hehehehehe peace ah!! Oh iya perlu diketahui juga bahwa HCl ditemukan oleh ilmuwan muslim bernama Jabir Ibn Hayyan. Hebat kan??
Coba anda lihat ke gambar peraga di kiri atas. Tanda bintang itu adalah electron valensi dari Hidrogen (H) dan tanda bulat-bulat adalah electron valensi dari Klor (Cl). Seperti itulah kira-kira model ikatannya.
Huffft pusing ya belajar kimia? Tapi asyik kan?? Sekarang kita sudahi dulu membahas masalah kimia. Kita beralih kepada hipotesa saya. Setiap kita yang belum bertemu jodohnya ini ternyata seperti atom yang belum stabil lho. Kita selama belum menikah pasti merasakan ketidakstabilan itu. Ketidakstabilan itu susah untuk diungkapkan secara kata-kata. Pokoknya kita merasa seperti ada yang kurang dari dalam hidup kita. Dan berbeda bagi yang sudah menikah. Dia akan merasakan separuh hidupnya sudah ada yang melengkapi. Seperti atom klor tadi, saat dia bertemu dengan hydrogen dia menjadi stabil karena kekurang electron valensi dalam dirinya sudah tergenapi.
Dalam Al Qur’an Allah SWT. Berfirman : “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzaariyaat : 49)
Di ayat yang lain :
“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Ar Ra’d : 3)
Lihatlah kebesaran Allah dan kebenaran ayat-ayat-Nya. Bahwa benda mati sekalipun dia mempunya pasangan. Apalagi kita yang adalah manusia? Kita pasti diberi pasangan, kalau tidak di dunia pasti di akhirat, asal kita yakin bahwa janji Allah itu benar dan pasti tertepati. Dan ketika kita hendak memilih pasangan pun harus mengikuti sunatullah/hokum alam. Layaknya Klor memilih Hidrogen menjadi pendampingnya karena memang keduanya kufu’, keduanya bisa saling melengkapi. Saya piker kufu’ perlu mendapat penerjemahan yang lain (setidaknya dari kaca mata saya sendiri) yaitu adanya kesamaan saling membutuhkan sehingga terjadi ikatan yang saling melengkapi. Kufu’ bukan berarti sama dalam segala hal. Klor dan hydrogen adalah dua zat yang berbeda namun saling membutuhkan. Akhirnya bertemu dan membentuk ikatan.
Begitu juga kita, kita akan cenderung mencari pasangan yang bisa melengkapi kekurangan kita. Dengan begitu hidup kita selanjutnya bisa stabil dan tenang. Dan tentunya Allah Maha tahu siapa yang bakal melengkapi hidup kita itu. Allah Yang Menciptakan kita, Allah juga yang mengetahui kekurangan dalam diri kita, dan Allah tentunya Allah akan memberikan jodoh yang akan melengkapi kekurang hidup kita, itulah jodoh kita. Jodoh kita itu adalah pasangan yang paling tepat dan pas untuk kita, walau kadang tidak sesuai dengan idealisme kita. Kita ingin pasangan yang cantik/tampan, kaya, dan pintar, namun Allah tidak mesti memberi yang kita inginkan tapi Dia akan memberi yang kita butuhkan.
Hanya sekedar hipotesa dan ingin mengeluarkan unek-unek. Maaf jika ada yang salah dari tulisan saya. Bagi yang ahli kimia, tolong betulkan tulisan-tulisan saya yang salah. Dan bagi yang hafal dan paham Al Qur’an tolong betulkan pelampiran ayat-ayat di atas jika ada yang salah. Saya hanya manusia bodoh yang masih mencari hakikat kehidupan.
Faqir ilaa Allah
Zulfahani Hasyim
Cairo, 29 Mei 2010
0 Komentar