Advertisement

Responsive Advertisement

Dimensi Keempat, Dimensi Sampah


“Aku akan memelukmu hingga kematian itu menjadi kenyataan di depan kita. Tenang saja, aku akan memelukmu, wahai kekasih.”

Wajahnya masih sendu. Namun aku yakin dia percaya kata-kataku. Sementara itu air menetes deras dari sisi kanan tempat kami saling berpelukan. Jakarta diguyur hujang siang hingga hari ini sama sekali aku tidak bisa menjual Koran-koran itu. Padahal aku butuh uang berobat kekasihku. Bagiku kekasihku adalah diriku sendiri karena aku tidak punya siapa-siapa selain dirinya di Jakarta ini. Begitu pun aku bagi dirinya.

“Aku akan mencari obat buatmu. Aku akan berusaha meski dunia tak lagi mempedulikan kita. Mungkin dunia sekarang sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Dunia sedang sibuk perang, dunia sedang sibuk rapat dan siding, dan dunia sedang tidur panjang di tengah kemewahan. Tapi tak mengapa wahai kekasihku.”

Dia kali ini tersenyum. Dia pasti semakin percaya kepadaku. Walau aku tahu dia tak lagi mempercayai dunia lagi. Baginya dunia ini tempat para pendusta dan penghianat. Janji ditebar untuk diingkari, sumpah diucap untuk dihianati, dan cinta ditimbulkan untuk dinodai. Tapi kepadaku dia sudah serahkan semua, begitu pun aku. Kami berdua bersama bukan karena cinta, bukan karena perjodohan, bukan pula pernikahan. Kami berdua terikat oleh sisa-sisa takdir yang diciptakan Tuhan untuk manusia. Kami sama-sama terbuang dari kehidupan.

“Kapan kita akan terlepas dari kehidupan ini?” tanyanya padaku

Aku diam. Aku bukan malaikat apalagi Tuhan. Aku tidak tahu kapan akhir dari semua ini. Kebusukan dunia sudah terlalu menyengat di hidung kami berdua namun tak juga kami membusuk seperti sampah-sampah di pinggir-pinggir jalan itu. Kami masih hidup menanggung semua pahit, merasa semua getir.

“Kita tidak akan terlepas dari hidup ini. Hidup ini punya kita. Tuhan telah memberikannya dan merelakannya. Kau dan aku sudah terpilih menjadi manusia. Sedang mereka hanya sedang berpura-pura jadi manusia. Mereka sedang berpura-pura bercinta, berpura-pura berperang, berpura-pura bahagia, berpura-pura menangis. Kitalah manusia yang hidup sebenarnya, wahai kekasihku.”

Malam sudah menguasai lanskap Jakarta. Aku dan kekasihku masih berpeluk. Menahan dingin dan lapar tak tertala. Kami tidak menangis karena sedih sudah mati kemarin sore. Tangisan sudah hanyut ditelan Ciliwung. Kami sudah terlempar ke dalam dimensi keempat kehidupan ini, yaitu sisa-sisa dan sampah-sampah.

Aku bangkit dan menyelinap di antara rintik hujan. Kupandangi langit walau tak ada bintang. Wajah rembulan pun entah tersimpan di mana. Aku masih menemani kekasihku. Namun aku janji malam ini akan aku dapatkan uang untuk mengobati penyakitnya. Uang bukanlah obat namun dia mengobati, dia juga bukan makanan namun dia mengenyangkan. Itulah uang, dan tentu saja karena kita bukan sedang berada di hutan. Kota metropolitan itu lebih gelap dari hutan. Semua jadi bagian peperangan. Dan kemiskinan adalah ujung-ujung pedang yang menghunus. Semua pasti mati. Bedanya hanya soal waktu dan pemakaman. Bagi yang miskin harus rela berhimpitan dengan ribuan jenazah lainnya. Bagi si kaya akan leluasa setelah membeli sepetak tanah di pekuburan mewah.

“Aku harus keluar dahulu. Kau dan aku butuh makan untuk tetap hidup.”

“Namun alangkah indahnya jika cepat-cepat lari dari kehidupan ini.”

“Lebih indah lagi kalau kita bisa menegur mereka yang telah merampas banyak kehidupan.”

“Dengan apa? Aku sudah tidak mau meratap lagi di telapak kaki mereka.”

“Dengan darah.”

“Kau mau membunuh, wahai kekasihku?”

“Tidak, aku hanya ingin tahu apakah darah mereka sama dengan kita.”

Suara kami kembali hilang ditelan suara kereta malam. Suara kereta itu seperti suara malaikat maut yang sedang marah. Tapi kami sudah biasa mendengar suara itu. Tentu suara itu tidak didengar oleh mereka yang rapat di parlemen, atau mereka yang berdemonstrasi di jalan-jalan. Suara itu hanya diperdengarkan kepada kami oleh Tuhan. Inilah bagian dari sisa-sisa takdir yang ada buat kami.

Aku pun pergi dengan meninggalkan satu kecupan di bibir kekasihku yang sudah pucat pasi. Jalanan yang basah dan tergenang air menangtangku untuk menyisir malam. Aku tak peduli seberapa dingin hawa malam itu. Tubuhku sudah kebal dengan ketidaknyamanan. Hatiku juga sudah kebal terhadap kecewa, sakit hati, dan segala ketidakbahagiaan. Semua itu seperti seporsi sarapan mewah bagi para saudagar kaya. Dan itulah santapan kami setiap hari.

Lihatlah, kawanan anjing liar sedang bercengkerama dengan keluarganya. Mereka bahagia lebih bahagia dari mereka yang beragama. Mereka menjalan hokum Tuhan semampu dan sekuat mereka. Mereka lebih mulia dimataku dari pada mereka yang berkhutbah setiap hari dan berdusta setelah selesai khutbahnya. Mereka bisa bicara tapi tak bisa mendengar. Sedang anjing-anjing itu selalu mendengar suara alam. Mereka menghormatiku seperti kakak kandung mereka. Itulah aku dan anjing liar. Bagian dari dimensi keempat kehidupan ini. Itulah sisa-sisa takdir Tuhan yang diciptakan untuk manusia.

Aku tersenyum senang ketika tahu saudaraku para pelacur sedang puas terlentang di bawah lelaki hidung belang. Malam ini mereka laris karena dingin membuat para pria merasa sangat kesepian. Pasti mereka banjir uang malam ini. Tapi aku tidak ingin meminta pada mereka. Semua rizki mereka sudah pantas untuk semua pengorbanan mereka.

Kini aku sudah ada di depan sebuah rumah makan. Aku tidak akan meminta makan pada mereka yang ada di situ. Mereka pasti semakin pongah ketika menyodorkan sebungkus nasi padaku. Aku akan tetap membeli dengan sisa-sisa takdir yang melekat di tanganku. Kini ada sebuah belati di tangan. Rasanya tak mengapa jika aku mencoba berjual beli dengan belati ini.

Aku masuk dan menusuk siapa saja yang menghalangiku. Aku mengamuk dan tidak bisa dicegah. Aku ambil semua makan yang ada. Aku jahat karena orang-orang yang baik. Orang-orang baik telah menciptakan penjahat untuk dirinya. Dan orang-orang jahat akan selalu butuh orang-orang baik untuk jadi korbannya.

Aku segera pulang untuk memberikan makanan ini pada kekasihku. Begitulah bagusnya dunia. Jangan menunggu uluran tangan siapa-siapa. Jika tidak ada yang memberi maka merampas. Bukankah dunia ini seperti sebuah ranjang? Kalau kau tak dapat tidur karena tempat dirampas maka kau tendang saja orang merampas tempat tidurmu, jangan kau menunggu sampai orang itu bangun dan pergi dari ranjang. Dunia ini rimba, dan kita adalah binatang hanya saja banyak dari mereka yang berpura-pura jadi manusia.

Aku menerjang apa saja. Rasanya ada jutaan senapan sedang memburuku. Milyaran peluru sedang mencariku. Lalu aku melesat bersama angin malam yang beku. Persetan saja dengan nyawaku. Aku hanya ingin menyelamatkan kekasihku. Dia harus bertahan sebisa mungkin, karena maut terlalu buruk untuk menyentuh perempuan berhati malaikat itu.

Semua kenangan masa lalu tergambar di kelopak mataku. Aku dan dia dipertemukan Tuhan dengan sisa-sisa takdir di dimensi keempat, di atas tumpukan sampah yang dibuang dari rumah-rumah mewah. Kami berdua tak tahu cinta. Tapi kami bahagia karena kami juga tak mengenal penghianatan atau perselingkuhan. Kami terbuang dari kehidupan dan menyendiri menikmati raungan suara kereta malam. Kami tersenyum menikmati lapar dan penyakit-penyakit. Dan pastinya kami jadi apa saja yang kami suka. Kami saling menikmati tubuh masing-masing dari kami. Dan kami senang Tuhan sudah menyisakan takdir walau cuma di seonggok sampah.

Tidak ada yang peduli menjadi surga kami. Kami tak perlu berteriak dan menangis minta tolong pada penduduk dunia karena kami adalah dunia itu sendiri. Bedanya kami berada di dimensi keempat.

Aku terus melesat menuju rumah kumuh tempat aku dan dia berteduh walau air masih menembus saat hujan turun. Aku yakin dia masih terus percaya padaku bahwa aku akan kembali padanya. Aku yakin dia masih tersenyum walau bibirnya sudah pucat dan membiru. Aku yakin, aku yakin….

Sepertinya sisa-sisa takdir sudah habis untuk kami berdua. Dia sudah lebih dahulu mati sebelum aku menyuapkan nasi di mulutnya. Aku sendiri sudah habis tenaga untuk berlari tinggal menunggu peluru-peluru itu menemukanku.

“Kemarilah dunia. Kemari!!! Ada aku di sini. Wahai binatang yang berpura-pura jadi manusia, wahai para iblis yang berpura-pura jadi alim ulama. Kalian palsu dan aku ini manusia. Datanglah mari kita buktikan kalau dunia ini adalah hakku. Aku berhak makan dan punya makam.”

Serombongan peluru menemukan diriku sedang terkapar menikmati sisa takdir. Aku yang terbuang dari kehidupan menemukan kehidupan asliku dibawah simbahan darah. Aku bisa bercinta sepuas-puasnya dengan kekasihku itu. Aku bisa memeluknya kapan saja aku mau. Serombongan peluru merobek kulitku satu persatu. Aku pun pamit untuk meniduri kekasihku di pemakaman, di bawah kamboja hitam, dan perdu-perdu…

Cairo, 7 Juni 2010, 1:06 a.m

Posting Komentar

0 Komentar