
Tolol!!! Tiba-tiba aku merindukannya. Nyawaku sudah ada di ujung tanduk, sementara arus peluru kian deras mengalir di samping dua telingaku. Sebuah angan menembus salah satu sudut otakku. Terpejam.
Aku hadir di antara taman-taman dan padang rumput. Satu kedamaian terpampang begitu saja di depanku. Aku masih mencoba mengenali siapa aku ketika ada seorang anak kecil bersayap menarik tangan kananku. Dia mengajakku ke mana dia suka. Kadang ke sebuah taman yang mirip taman gantung zaman babilonia. Terus menyusuri sebuah bangunan misterius seperti Stonehenge.
Aku dibiarkan sejenak memandangi batuan yang ditumpuk simetris itu. Sementara anak kecil bersayap tadi terbang ke sana kemari sambil tertawa-tawa.
“Konyol!!!”
“Kau memang belum boleh mengerti semua ini.”
Namun naluri manusiaku menikmati romansa damai yang hadir di taman-taman itu. Di situ banyak sepasang manusia bersayap sedang memadu kasih. Bergandengan tangan tanpa ada rasa takut terpisahkan. Sementara di sudut lain ada seorang ibu muda sedang menetek bayinya. Semua berpakaian serba putih. Aku seperti tersesat dalam cerita-cerita mitologi Yunani.
Aku terus berjalan. Sendiri. Semua tersenyum padaku. Kubalas sebisaku. Aku masih asing dengan sebentuk kedamaian ini. Otakku masih belum bisa menafsiri rasa dalam hati ini. Aku seperti baru tadi membunuh seorang serdadu sekutu. Rasanya baru beberapa menit yang lalu aku mencukil mata serdadu itu dengan puncak kemarahanku. Namun itu hilang.
Aku terus berjalan di antara bebungaan. Aerides Odoratum, Rosa Villosa, dan Jasminum Sambac seakan memberi senyum padaku. Aku bimbang membalasnya. Aku bertemu lagi dengan sepasang manusia bersayap. Di samping mereka ada kedua orang tua mereka. Mereka memilih cinta tanpa harus khawatir tak mendapat restu. Semua cinta di restui di negeri aneh yang aku datangi kali ini.
Aku masih berkeliling bangunan aneh mirip Stonehenge itu. Di bagian atas tumpukan batu simetris itu ada beberapa gadis menabur potongan-potongan bunga. Wanginya jangan tanya. Tubuhmu akan berubah menjadi seperti batang Cendana kalau tersentuh potongan bunga itu. Aku duduk sejenak di sebuah bangku di taman itu. Aku sama sekali tidak mendengar keributan atau pertengkaran. Yang kudengar hanya tawa-tawa bahagia seperti layaknya malam pesta pernikahan.
Aku pun dibawa lagi oleh anak kecil bersayap tadi terbang menuju daerah yang lebih tinggi di kawasan itu. Kali ini aku seperti berada di dataran tinggi Andes. Aku masih teringat bacaan ilmu alam sewaktu SD tentang pegunungan Andes. Konon pegunungan itu terbentuk karena lipatan benua. Namun sudah lupakan saja. Cita-citaku menjadi saintis sudah lenyap. Kini aku hanya seorang serdadu perang yang tolol. Hanya mau diperbudak oleh ambisi seorang jenderal.
Aku di bawa ke tepian dataran tinggi itu. Tepian itu menghadap ke barat. Benar-benar mirip pegungan Andes. Di ujung horizon ada matahari yang bulat berwarna jingga hendak tidur di peraduannya. Aku masih merasakan damai yang amat sangat ketika anak kecil itu menjorokkan aku dan aku pun terjatuh ke tepian laut itu. Dan aku pun ditelan hidup-hidup oleh ombak ganas. Hilang…
Aku muncul di sebuah parit becek. Di samping kiri dan kananku ada mayat kawanku. Mereka mati beberapa menit yang lalu. Aku terus pindah ke tempat yang aman. Sementara desingan peluru seperti rintik hujan yang jatuh di atas genteng. Aku mendapati tempat yang aman. Aku mendekap kuat-kuat senapanku. Aku tidak berkutik dan tidak berani menampakkan diriku atau aku akan jadi bulan-bulanan tentara sekutu.
Otakku seperti hendak meledak. Aku tenggelam dalam masa lalu. Ketika orang tua Maria mengusirku. Mereka menolak lamaranku karena aku hanya seorang serdadu. Mereka tentu menginginkan anaknya hidup aman dan sejahtera. Dan tentu itu tidak mungkin bisa jika hidup dengan diriku.
Betapapun cintanya diriku pada Maria, namun sekat jurang yang memisahkan aku dengannya seperti Grand Canyon. Aku harus rela melepas dia menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Dan aku pun ditarik kembali oleh pemerintah untuk berperang. Aku ditarik masuk ke dalam dunia yang tidak ada ketenangan. Aku dipaksa untuk kejam. Aku senang karena aku ingin menghilangkan rasa cinta. Aku ingin menjadi kanibal. Membuang jauh-jauh rasa kemanusiaan.
Namun nyatanya aku sekarang justru menjadi sangat manusiawi. Aku merindukan damai, aku mencintai, dan aku ketakutan. Takut akan lapar, mati, dan pengasingan. Bagaimana pun aku bukan Leonidas bukan juga Xerxes. Aku hanya serdadu yang selalu ketakutan. Namun aku suka membunuh. Karena dengan membunuh ketakutan itu pergi. Namun tak kupungkiri betapa lemahnya aku. Hingga menaklukkan orang tua Maria saja aku tidak bisa. Tapi biarlah aku suka peperangan ini. Semua seperti memainkan kartu di meja judi. Menang atau mati.
Aku terus berlari mengejar bagian kehidupan yang paling nyaman di saat puncak perang dunia kedua. Semua orang mencari perlindungan. Tak ada ibu muda yang menetek anaknya. Semua menangis dan tak lagi bisa bersuara. Suara ledakan mesiu lebih keras jadi tak ada gunanya menjerit.
Aku pun tak bisa melihat sepasang manusia bersayap yang bergandengan tangan… Lemas rasanya. Aku kini berada dalam pilihan aku lari mundur dengan konsekuensi aku akan ditembak mati oleh pasukan pengawal yang siap menembak siapa saja yang melarikan diri dari peperangan atau aku maju dengan dua pilihan juga. Membunuh atau dibunuh.
Aku memilih berjudi dengan takdir. Di depan sana aku temukan mayat-mayat bersimbah darah. Semua kawanku dibantai. Mereka telah menuju keabadian. Sebenarnya pasukan kami berada di ujung kemenangan dan selangkah lagi kami bisa menguasai Warsawa. Kekuatan kami adalah pasukan lapis baja. Namun begitu perang tetaplah menyisakan kematian.
Aku tiarap untuk bertahan sekaligus menyiapkan serangan. Aku harus menang untuk tetap hidup. Di sinilah perjudian sebenarnya. Namun tiba-tiba aku diseret lagi ke dunia aneh yang beberapa saat lalu menidurkanku di dalam parit becek khas perang dunia kedua. Aku kembali disambut oleh seorang anak kecil bersayap. Aku terbang.
Aku disudutkan pada panorama yang bertolak belakang dengan panorama sebelumnya. Aku kembali menemukan damai yang tiada tara. Aku hinggap di bangunan yang mirim Coliseum di zaman romawi kuno. Namun di sana tidak ada gladiator dan singa-singa. Yang ada adalah tarian indah para gadis jelita. Aku ikut bersorak bersama ribuan penonton lainnya. Mereka semua berpakaian ceria. Ada merah, ada kuning, ada hijau, ada jingga, dan lain-lain.
Aku terus hinggap di sisi lain dunia aneh itu. Aku hadir di sebuah pesta. Semua makanan tersaji. Aku benar-benar lapar dan aku makan sepuasku. Aku makan ayam panggang, anggur hijau, dan manisan khas Persia. Aku tak luapkan segala bahagiaku.
Aku duduk di sebuah bantalan empuk dengan dua gadis belia. Mereka bersayap juga. Aku diajaknya minum anggur sepuasku. Aku bercanda dan tertawa bersama mereka. Di sini tak ada cemburu atau sakit hati. Cinta lebih dimaknai sebagai jalinan untuk berbagi dari pada jalinan untuk memiliki. Aku suka ini.
Meja di depanku berisi buah-buahan dari seluruh dunia. Aku pun bebas bicara. Tak ada aturan namun semua Nampak nyaman.
“Kau cantik.” Kataku pada seorang gadis.
“Aku mencintaimu.” Jawab gadis itu.
Aneh. Benar-benar aneh. Di sini kita bebas memuji dan mengagumi. Dan tidak ada wanita marah jika digoda. Aku boleh terpesona dan apa saja. Aku terus melanjutkan langkah menuju sebuah istana. Aku pikir inilah tempat mereka yang berkuasa. Ternyata salah. Tidak ada penguasa di sini. Semua raja dan diperlakukan seperti raja. Permadani-permadani Iran tersedia untuk siapa saja. Semua boleh menginjaknya. Dan inilah dunia paling ideal yang pernah aku temui.
Aku berharap aku abadi di sini. Tapi tidak. Saat aku sedang berasyik masyuk dengan para harem di istana, aku kembali terlempar ke dalam sebuah pesawat tempur. Aku kini menjadi bagian dari Luftwaffe, sebutan untuk angkatan udara Jerman. Di badan pesawatku ada lambang swastika khas Nazi. Aku ditugaskan untuk menjatuhkan bom-bom di jantung-jantung pertahan Polandia. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang mati karena bomku. Yang jelas di bawah sana pasti banjir darah.
Aku terus menerobos pertahanan udara Warsawa. Di sana ada sekitar 100 pesawat tempur siap menembak jatuh pesawatku. Jika di bawah sana aku bisa bertempur dengan banyak orang maka di atas awan ini aku hanya bertempur dengan beberapa saja. Di atas lebih mengandalkan kecerdasan navigasi dan akurasi menembak. Dan misiku harus sukses. Menjatuhkan misil di daerah paling vital, gedung pemerintahan.
Tapi nyatanya aku gagal. Awan yang menutupi warsawa seperti malaikat Tuhan yang memihak mereka. Misilku jatuh beberapa ratus meter dari gedung pemerintahan. Aku pun malu untuk pulang. Sial aku berada di udara dan bahan bakar pesawatku semakin menipis.
Apakah ini pilihan yang paling tepat? Aku tidak yakin dengan pilihanku ini namun tidak ada pilihan yang lebih baik. Di pasifik sana pasukan Jepang menumbukkan pewasat mereka ke kapal-kapal perang Amerika. Bagiku mereka begitu ksatria. Apakah Warsawa akan sama seperti Pearl Harbour? Mungkin.
Aku melesat dengan kecepatan tinggi ke arah gedung berwarna cokelat itu. Aku yakin di dalam sana suasana sedang genting. Dan kehadiranku di gedung itu pasti akan menambah ramai. Aku ingin membuat gedung itu seperti istana yang barusan aku kunjungi. Tanpa penguasa, tanpa monarki, dan tanpa kediktatoran. Aku ingin menciptakan damai dengan ujung jiwaku. Aku dan pesawatku menubruk gedung pemerintahan itu. Kamikaze.
“Aku benar-benar mencintaimu, namun aku lebih mencintai idealismeku sendiri.” Ucapku beberapa meter sebelum pesawat menumbuk dinding gedung itu. Dan semua berubah menjadi dunia ideal yang aku impikan. Indah. Manusia bersayap. Ibu muda yang menetek anaknya, sepasang manusia bergandengan tangan, dan taman-taman indah yang mengelilingi bangunan yang mirip Stonehenge. Ada juga taman gantung ala babilonia, indah dataran tinggi Andes, dan coliseum khas Romawi dengan para penari jelitanya. Semua indah. Menyatu dalam tumpahan darahku.
Kairo, 17 April 2010.
0 Komentar