Advertisement

Responsive Advertisement

Merenung Bersama Ibnu 'Athoillah, Sebuah Kewajiban yang Terlupakan Karena Sunat

Saya sore itu dikirimi SMS dari salah seorang kawan di Indonesia. Kebetulan HP saya tidak ada pulsa untuk membalasnya. Dan saya harus turun apartemen untuk membeli pulsa. Sehabis membeli pulsa 5 pound (sekedar untuk balas SMS) saya melihat seorang bapak-bapak agak tua, dengan penglihatan agak kabur dituntun oleh seorang anak perempuan kecil. Mereka berdua berjalan berkeliling kompleks untuk mengemis. Sungguh pemandangan yang memilukan hati. Mata saya langsung berkaca-kaca melihat mereka berdua. Saya memang paling tidak tega melihat orang miskin dan kaum papa. Sebagian orang yang mereka temui memberi sedekah seadanya. Ada yang memberi satu pound, nush (50 piester), dan ada yang rubu' (25 piester). Setiap orang yang memberi dia doakan "jazakallah bi khairat, Allah yubarik fik".

Saya merasakan getaran dari setiap doa yang dia naikkan ke langit. Saya merasakan ada "sayap-sayap" malaikat yang sedang meneduhi mereka berdua. Sungguh miris jika kita bandingkan dengan negeri tempat mereka berada, yaitu Mesir. Sebuah negeri peradaban, budaya, wisata, dan ilmu pengetahuan. Mereka seharusnya menjadi bagian dari kekayaan negeri Mesir. Sebelum saya ke Mesir saya pernah membaca sebuah artikel tentang terusan Suez, sebuah terusan yang menghubungkan laut Mediterania dengan laut Tengah. Dari terusan ini Mesir mendapatkan devisa minimal dalam satu tahun 29 juta US$ atau sekitar 265.640.000.000 Rp. Ini dari perhitungan tahun 2006-2007 sebelum harga minyak dunia naik. Sekarang saya tidak tahu, entah berapa juta dolar yang diraup Mesir dari Suez.

Belum lagi dari wisatanya. Beruntunglah bangsa Mesir menjadi pewaris reruntuhan dinasti Pharaoh yang kini menjadi obyek wisata andalan di Mesir. Entah berapa juta dollar mereka kumpulkan dari tempat-tempat wisata. Ditambah lagi bandara Kairo adalah termasuk bandara tersibuk dan termahal di dunia (mungkin itulah salah satu penyebab Garuda tidak mau mendarat di Kairo walau kini dia sudah bebas terbang sampai ke Eropa). Bayangkan tarif parkir pesawat selama satu jam di bandara Kairo adalah 5000 US$ (mohon dibenarkan jika salah). Dalam satu hari berapa ratus pesawat yang mendarat di Kairo? Dan berapa jam tempat parkir itu terpakai? Negara kaya raya, itulah saya menyebutnya. Tapi heran kenapa ada seorang bapak tua bermata rabun dituntun anak perempuan kecil yang mengemis di komplek apartemen saya? Miris, itulah ungkapannya.

Rasanya sudah cukup saya bandingkan dua kehidupan ini. Hati saya sudah semakin lebat gerimisnya. Malam harinya saya membuka kembali kitab Al Hikam Ibnu 'Athoillah As Sakandary yang mulai berdebu karena lama tidak saya sentuh. Sejenak saya ingin berwisata hati bersama ulama asal Alexandria ini. Meneguk untaian bait-bait indah penuh hikmah dari karya besarnya. Memang kebiasaan saya jika penat dengan kehidupan, saya buka kitab Al Hikam, dan saya merasa sedang berhadapan dengan sufi legendaris Mesir itu, di pinggiran pantai Iskandariyah, dengan deburan ombak kecil Mediterania. Damai.

Random saja, saya buka salah satu halaman kitab itu. Ada sebuah kalimat indah di sana. "Min 'alaamati itibaa'i al hawaa, al musaari'atu ilaa nawaafilil khairot, wa takaasul 'anil qiyaami bil waajibaat." artinya kurang lebih begini "termasuk tanda-tanda mengikuti hawa nafsu adalah bersegera melakukan kebaikan yang sunnah, dan bermalas-malasan terhadap pelaksanaan ibadah yang wajib." (mohon dibenarkan oleh para ustadz dan ustadzah sekalian jika saya salah mengartikan)

Setelah membaca syarahnya (keterangannya) saya menjadi teringat oleh kepada sebuah kejadian dimana saya diceramahi oleh seseorang di sebuah masjid. Waktu itu saya sedang menyendiri di masjid sambil merenungkan kehidupan. Dia dengan semangatnya menceramahi saya soal ini itu, mulai dari celana saya yang tidak setinggi betis, saya tidak memelihara jenggot, dan lain-lain. (maaf saya tidak bermaksud menyinggung members yang bercelana setinggi betis dan berjenggot. Karena saya juga terkadang memakai celana setinggi betis walau lebih sering bercelana jeans, namun saya tidak punya jenggot karena tidak tumbuh dari dulu hehehe) Waktu itu saya belum lancar berbahasa arab jadi saya cuma jawab thoyyib ya 'ammu (baiklah wahai paman). Sekarang saya berpikir kenapa mereka yang begitu gencar berdakwah hanya menyeru kepada yang sunnah? Karena hal-hal yang mereka serukan adalah hal-hal sunnah. Seperti memelihara jenggot, memakai celana setinggi betis, memakai niqab, berpuasa sunat, dan lain-lain yang merupakan nawafil (ibadah sunat). Sangat jarang saya mendengar mereka berceramah tentang zakat. Padahal zakat itu adalah wajib. Paling dalam satu tahun saya mendengar khutbah tentang zakat satu kali yaitu hari jum'at terakhir di bulan Ramadhan. Padahal zakat yang wajib bukan hanya zakat fitrah. Harta yang sudah satu nishob itu sudah wajib dibayar zakatnya.

Apakah umat ini sudah lupa dengan zakat? Atau memang sengaja dilupakan oleh kaum materialis-kapitalis? Bahkan takaran membayar zakat pun banyak yang tidak tahu. Padahal itu ibadah wajib. Subhanallah, benar kata Rasullah SAW. bahwa orang yahudi akan takut jika umat Islam suka melaksanakan jama'ah subuh dan membayar zakat (maaf saya lupa nas haditsnya, bagi ustadz-ustadzah tolong dikoreksi). Jadi wajar kalau sekarang orang-orang Yahudi begitu santai menghadapi umat Islam, lha wong sama zakat saja mereka lupa.

Kemiskinan tumbuh subur di dalam umat yang disyari'atkan di dalamnya zakat sebagai pengendali ekonomi. Zakat mempunyai banyak hikmah dalam umat ini. Selain mensucikan harta para kaum kaya, juga meratakan pendapatan ekonomi umat. Orang-orang miskin dan kaum papa terbantu jika zakat berjalan lancar dan seimbang. Karena memang begitu tujuan disyari'atkannya zakat. Namun kenyataannya orang-orang kaya di Timur Tengah semakin kaya, dan orang-orang miskin semakin miskin. Anak-anak yatim piatu di Gaza, Afganistan, Irak, Libanon, Sudan, dan berbagai negara Timur Tengah yang lain terlupakan oleh gegap-gempita Burj Dubai yang megah. Kapal-kapal tangker berlayar bukan untuk memenuhi kebutuhan para dhu'afa, bukan. Tapi kapal-kapal itu berlayar untuk mengisi perut-perut milyaner arab yang makin buncit. Saya miris melihat Qarun-Qarun abad milenium tertawa-tertawa di singgasananya. Saya sedih melihat Para Fir'aun sedang mempertahankan kuasanya dengan segala cara. Sementara anak yatim, janda-janda tua, para korban perang terlupakan, dan hanya menjadi bahan diskusi para sarjana.

Rasanya sudah cukup saya merenung bersama kata-kata Ibnu 'Athoillah. Seandainya beliau tahu, sungguh saya ingin berguru padanya, namun yang saya bisa hanya membaca karya besarnya. Semoga Allah melimpahkan rahmat padamu wahai Imam Besar Iskandariyah....
Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Saya masih belajar, mohon koreksinya jika tersalah....

El Mansoura, 15 Januari 2010

Zulfahani Hasyim

Posting Komentar

0 Komentar