saat arah mata angin tak lagi menunjukkan tabiatnya
fajar dan senja seolah tiada berbeda
langkah lesu menginjak segala ketidakpastian dan keraguan
jangan salahkan pilihan ini
jika kau juga tak pernah merasa sakit ini
biar utara selatan menikamku
aku lari ke timur dan barat yang tak ada batas tentu
malam-malam padam
menjamu ribuan setan dan para gembala
aku jadi hidangan yang siap ditelan
atau diperebutkan dalam ribuan nampan dan bejana
atau akulah kerbau-kerbau itu
yang dungu yang dicocok hidungnya
oleh kenyataan dan permainan para perawan
hingga sedih tak sampai-sampai jadi tangisan
pagi ini sudah hilang
siang tak lagi dalam habitatnya
rembulan malam pun tak seelok dulu yang aku tahu
bintang pun jadi temaram dan lama-lama buram
ribuan sajak minta ditulis segera
begitu kata seorang pujangga
namun aku tertatih
sakit tak meluka dan redup dalam cahaya
pil dari dokter cuma jadi bahan renungan
lama-lama dipikirkan jadilah dia sebuah artikel di koran
dilupakan dan dibuang sia-sia
tak jadi wacana tak juga berita
aku masih ada di sudut persimpanganku
dengan pelacur-pelacur binal yang masih menggodaku
aku antara kehidupan dan kematian
bukan sekedar sekarat yang bikin orang tersedan
mati lagi lagi mati hidup hidup
sendiri bersama bersama kesendirian
sayu layu dan jatuh satu-satu
daun gugur satu ambruklah hutan-hutan
tak lagi bisa diratap
mata bening tak lagi bisa melihat
nafas jadi bungkam dan tak mau bercerita
diam-diam aku menunggui lubang kuburku
El Mansoura, 17 Juni 2010, 12:07 a.m
0 Komentar