Advertisement

Responsive Advertisement

Matiku, Kembara...

Pagi masih lengang
hati pun belum tersentuh
aroma jalan raya masih menyisakan kemabukan
seorang kembara mati sunyi sendiri di sini

Jasadnya berjalan hingga jauh tak jangkau dua tangan
ruh hinggap di ranting-ranting daun kamboja
masa kecilnya hilang dalam umpatan pada kenyataan
yang menyediakannya segala kelemahan

Siang tetap lengang
tak ada mata atau bibir menyapa
hatinya terkatup dan terkunci dari semua warna hidup
dan darahnya membiru bagai mayat hampir membatu

Langkah kakinya sempoyongan
bukan mabuk
hanya kesepian
dia tak lagi merindu atau dirindu
dia sudah hilang dari dunia

melupakan dunia dan tenggalam dalam maya cita-citanya
biar semua jadi dusta tak perlu dikata
sekarat-sekarat menjadi lauk makan malam yang lezat
dan terbuang jauh hingga tak berwujud manusia

sudah lupakan saja kembara itu
lupakan karena dia hanya sampah yang jadi bangkai
kembara itu tak layak dapat cinta dari siapapun
dia hanya teror sesaat bagi para gadis-gadis
sudah selayaknya diabaikan....

matilah kembara itu
matilah diriku
dan daun-daun kamboja pun berguguran....

Posting Komentar

0 Komentar