
Ya sudah saya akan berkata baik-baik
meski hidup tak seluruhnya baik-baik
meski orang baik tak lagi didengar dan selalu tercekik
di lehernya ada rantai dan ada dua mata yang selalu mendelik
ya sudah saya akan berkata yang indah-indah
meski dalam senyumanku ada gundah-gulana meruah
meski keadilan sudah tak lagi jadi sejarah
dan para pejuang pada mati berdarah-darah
ya sudah saya akan berkata yang santun-santun
meski sumbang tanpa nada rimaku tetap mengalun
meski angkara berkuasa dan dalam revolusi aku akan turun
dan teriakan para pemuda-pemudi mulai hilang lambat-laun
ya sudah saya akan berkata yang lembut-lembut
meski dalam kenyataan hak-hak rakyat mulai tercabut
meski dalam perjuangan tangan-tangan besi mulai menyerabut
lalu kalian akan tetap diam meski penguasa dalam arogansinya terhanyut-hanyut
teruslah berkata yang baik-baik
teruslah berkata yang indah-indah
teruslah berkata yang santun-santun
teruslah berkata yang lembut-lembut
hingga akhirnya semua menjadi bangkai
dan mayat-mayat tergeletak tanpa diperhitungkan lagi
dan nasib kami akan sama seperti mereka
mereka yang terbaring kaku di antara krawang-bekasi
tulang, darah, dan keringat tak lagi menemukan nilainya
harga keadilan dibayar dengan kuasa dan setitik dunia
Demi Tuhan, saya akan tetap berkata yang baik-baik
meski kebaikan tak lagi dianggap sebagai yang santun-santun
meski perjuangan tak lagi dianggap sebagai yang indah-indah
meski revolusi tak lagi dianggap sebagai yang lembut-lembut
Teruslah berkata yang baik-baik...
terus...
dustakan semua yang ada dengan yang baik-baik!!!
Cairo, 30 Mei 2010
Puisi ini saya jadikan komentar di sebuah pesan dinding di wall facebook PPMI Mesir
Sebagai ungkapan hati yang baik yang tak lagi dianggap baik
0 Komentar