
Aku sekarang berada sekitar 160 kilometer dari Kairo. Aku berada di sebuah kota bernama Mansoura, ibu kota dari provinsi Daqhleya, Mesir. Kota tempat aku menempuh pendidikan ternyata tidak membuatku nyaman. Kondisi aman dan kondusif untuk belajar ternyata tidak membuatku bahagia. Aku sangat fluktuatif. Aku butuh dentuman-dentuman kehidupan, juga dera-dera kasar dari penghuni kota. Mungkin benar kata kawanku di mana wilayah aman tidak akan memberikan pertumbuhan.
160 kilometer dari Kairo, membuat aku merindukan segala hal tentang Kairo. Penduduknya, kedai ashirnya, masjid-masjid tuanya, menara-menaranya, padat lalulintasnya, dedebuannya, terik panasnya, hingga kehidupan intelektualitas yang tumbuh di sana.
Kini aku ingin mencoba melihat Kairo dan menceritakannya dari jarak 160 kilometer. Dari kota delta Nil yang hijau aku menyorot kehidupan yang terus berpacu di sana. Kairo sebuah kota tua yang dibangun oleh Jauhar As Sikli sang penakluk dari Sisilia, yang bersama dinasti Fatimiyah kemudian mendirikan Al Azhar. Di sana pengemis bersaing dengan para pemulung, memunguti rizki Tuhan yang tersebar di mana-mana. Di sana juga para saudagar kaya dari seluruh dunia bertaruh masa depan. Pasca Revolusi 25 Januari Kairo terus berbenah. Sendi-sendi sosial yang rusak tiga puluh tahun terakhir terus diperbaiki, mulai dari yang kecil, kebersihan yang kembali dijaga, kesadaran pendidikan dan budaya kembali dibangunkan, semuanya hidup.
Lantas...
Entah kenapa, rasanya tidak ada yang berubah dari mahasiswa Indonesia di Mesir. Semua stagnan. Eksplorasi kebudayaan dan intelktual masih didominasi kelompok mahasiswa yang sama (seperti sebelum revolusi). Mereka masih hidup dalam dunia yang tak jelas mana tepinya. Haruskah aku ikut ke dalamnya. Tidak. Tapi aku tidak juga cukup mampu untuk bergerak merubahnya.
Obrolan-obrolanku dengan beberapa kawan mahasiswa yang punya daya kritis tinggi masih sama, dinamika mahasiswa Indonesia di Mesir adalah dinamika yang rusak. Sebagian mereka memilih zona aman, hidup di kota-kota pinggiran, membatasi eksplorasi pengetahuan mereka pada diktat-diktat kuliah dan mereka pun jadi jumud. Atau ada lagi mereka yang hidup bergaul, berbaur dengan banyak orang, beraktifitas di organisasi namun lupa pada tempat di mana mereka berada, mereka seperti mendirikan sebuah negara baru di Mesir, mereka merasa jadi raja di sana, dan mereka pun tak pernah merasakan petualangan intelktual yang berarti di kota sejarah, Kairo.
Kairo, sebenarnya dia terus menantang siapa saja untuk menaklukkannya, pulang dengan membawa kemenangan, dan raihan prestasi ilmu pengetahuan.
Dua tahun aku tinggal di Mansoura ternyata tidak memberikan pertambahan berarti pada kehidupan intelektualku. Namun satu tahun di Kairo aku seperti mendapat siraman pengetahuan dari segala arah. Aku ingin sekali membayar dua tahunku yang hilang di Mansoura. Aku ingin mengecap banyak kecerdasan-kecerdasan di Kairo. Namun entahlah. Aku dikejar waktu. Usia yang tak mau kompromi. Aku harus menyelesaikan pendidikan secepatnya, namun aku masih ingin memunguti banyak ilmu di jalanan Kairo.
160 kilometer dari Kairo, membuat aku memimpikan banyak tentang Kairo. Ingin mengulang banyak cerita dan membuat cerita baru di sana. Aku ingin jatuh cinta berkali-kali di sana pada masjid-masjidnya, pada perpustakaannya, pada jalanan dan kedai-kedai ashirnya.
0 Komentar