Advertisement

Responsive Advertisement

Teror Asin


Belum selesai masalah Nazaruddin dan Nunun, kini penembakan polisi di beberapa daerah di Indonesia muncul sebagai masalah baru. Masalah yang mau tidak mau harus diperhatikan. Bagaimana tidak? Polisi sebagai pelindung masyarakat sudah sedemikian lemahnya hingga tidak berdaya melawan teroris. Jika sudah begini kepada masyarakat kita mengharapkan jaminan keamanan?

Tak hanya teror fisik, teror mental pun diterima sejumlah media di Indonesia dengan kiriman peti mati berisi setangkai mawar putih. Meski belum jelas tujuan dan motivnya, tapi yang jelas teror kecil-kecilan ini menyedot banyak perhatian. Rasanya teror bukan sekedar menjadi fenomena ekstrim tapi juga sudah menjadi tren dan gaya penyampaian pesan di masyarakat kita. Teror menjadi cara tersendiri dalam mengungkapkan ketidak sukaan satu pihak ke pihak lain.

Selama ini teror hanya disematkan pada kelompok-kelompok Islam garis keras. Namun monopoli ini rasanya sudah tidak berlaku lagi, kejadian yang terus menerus terjadi di masyarakat mulai dari bom, penembakan, penyerangan sedikit banyak mengajari masyarakat kita bagaimana menyatakan protes kepada pihak lain yang berlawanan arus. Teror pun tidak selamanya besar berbentuk bom dan sangat mematikan. Mulai dari bom buku yang bersekala kecil hingga intimidasi mental seperti kejadian ‘peti mati’ baru-baru ini.

Perlahan terorisme bukan bukan lagi tindak kejahatan, tapi sebuah iseng-iseng yang menyentil pihak-pihak tertentu. Sayangnya sentilan-sentilan kecil itu tidak pernah dianggap serius. Bahkan seringkali dianggap ulah-ulah bodoh yang kemudian dilupakan.


Bisa jadi suatu saat teror menjadi budaya masyarakat kita. Bagaimana tidak? Masyarakat kita suatu saat akan mencapai titik kulminasi kejenuhan akan ketidak pastian hidup, ekonomi yang tak menentu, pendidikan yang buruk, dan ketimpangan sosial yang tak terelakkan.

Rasanya tidak adil jika teror hanya dinisbatkan kepada kelompok Islam garis keras saja. Masyarakat awam kita pun punya hak untuk ‘meneror’. Ketika pemerintah sudah tidak bisa lagi menciptakan rasa aman, kesejahteraan, dan jaminan pendidikan yang memadai, sedang dikritik dengan tulisan dan aksi demonstrasi pemerintah kita seperti sudah tak bertelinga, memang wajar jika masyarakat mulai meniru para gerombolan teroris dan menjadi ‘teroris-teroris kecil’ yang siap menyatakan ‘tidak’ kepada pemerintah.

Pun demikian media. Media sepertinya harus siap diteror oleh berbagai pihak yang sering dirugikan media, seperti koruptor, penyogok dan penyuap, para penjabat yang takut ketahuan belangnya, dan pemerintah yang sedang menjaga mati-matian citranya di mata publik. Di sini media harus siap masuk ke dalam budaya terorisme yang kian hari kian diminati masyarakat seperti telor asin. Jadi tidak salah kalau nantinya ada istilah baru yaitu “teror asin”.

Kairo, 6 Mei 2011

Posting Komentar

0 Komentar